Ironi dalam Keapatisan Mahasiswa
Mahasiswa atau Mahasiswi adalah panggilan untuk orang yang sedang menjalani pendidikan tinggi di sebuah Universitas atau perguruan tinggi. Dalam sejarahnya, mahasiswa telah banyak mengambil peran dalam sejarah pergerakan, seperti pada masa rezim OrBa yang menggulingkan kekuasaan Presiden Soeharto pada peristiwa Mei 1998. (dicomot dari Aki "Wikipedia", makasih ya aki). Dalam perjalanannya, mahasiswa tidak hanya menjadi sebagai sosok yang menempuh pendidikan di bangku kuliah dan berlalu pulang tanpa alasan (gampangnya, kuliah-pulang-kuliah-pulang (kupu-kupu)). Mahasiswa juga memiliki fungsi dan peran. Fungsi mahasiswa diantaranya (semoga gak salah) sebagai Iron Stock, Agent of Change, dan Guardian of Value.
Sebagai gambaran, seorang mahasiswa sepatutnya harus mampu memberikan suatu perubahan dari sistem yang telah ada (jika ini dianggap menentang dari norma) serta mampu menjaga norma-norma yang ada dalam tatanan sosial yang ada dalam masyarakat. Mahasiswa juga juga diharapkan mampu untuk menjadi sosok yang tangguh, memiliki kemampuan dan berakhlak mulia yang dapat menjadi pengganti dari para pendahulu-pendahulu mereka. Dengan demikian, maka barulah mahasiswa bisa ditempatkan sebagai massa penggerak dalam peradaban (udah paham? lanjot).
Peran mahasiswa juga gak kalah penting ni kawan-kawan. Dalam literatur ilmu politik, mahasiswa merupakan salah satu aktor yang dapat digolongkan ke dalam pressure group (kelompok penekan). Mahasiswa merupakan aktor penting dalam perubahan-perubahan sosial dan politik. Sejarah perubahan politik besar di negeri ini selalu diwarnai oleh peran mahasiswa yang sangat menonjol (oleh Asep Mulya, makasih bang). Mahasiswa, sebagai kelompok intelektual dan wakil dari kelompok anak muda dari warga, secara naluriah memiliki tingkat kepekaan yang tinggi pada persoalan-persoalan sosial di sekitarnya. Tak heran Bung Karno pernah berujar, ”Sediakan aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia!”
Tapi kini, seiring dengan perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi serta bertambahnya umur ayahku (kok jadi ayah masuk sini?), pergerakan serta penegakan dari peran dan fungsi mahasiswa bisa dikatakan sebagai suatu hal yang "mewah". Kenapa? disini poin permasalahannya saudaraku (mulai pake jas pake dasi). Peran dan fungsi mahasiswa seiring waktu mulai luntur dikarenakan sikap dari para mahasiswa sendiri yang memilih untuk menjadi apatis. Apatis (bahasa yunani "a-phatos") merupakan sikap dari seseorang yang tidak perduli kepada lingkungan dan apapun yang terjadi disekitarnya. Dalam bahasa yang mudah dimengerti, apatis adalah sikap "Nafsi-nafsi". Jika ditelaah lebih jauh lagi, ada beberapa faktor yang menjadikan mahasiswa bersikap apatis. mari kita bahas sekarang (siapin naskah, naik podium).
Yang pertama, hedonisme (gaya hidup berhura-hura yang hanya mementingkan kesenangan dan kenikmatan duniawi) secara perlahan merasuki kaum muda-mudi, tak terkecuali mahasiswa. Tak bisa kita pungkiri, kini mahasiswa tidak bisa lagi kita anggap sebagai kaum intelektual dan agen perubahan. intelektual disini tidak hanya sebatas memiliki nilai akademis yang bagus, tapi juga bagaimana untuk menjadi manusia yang bisa kembali kepada masyarakat untik mengabdi. Banyak mahasiswa kini terjebak pada kehidupan bermewah-mewahan. Contoh paling dekat adalah mahasiswa kini malu jika kurang update dalam hal gadget. Suatu kebanggan kini dalam kalangan mahasiswa jika memiliki smatrphone tipe terbaru, punya tablet PC dan semacamnya. Justru kalangan yang tidak memiliki ini dianggap sebagai kalangan terbelakang, kuno, kampungan dan sebagainya. Dengan gambaran seperti ini, masih layakkah mahasiswa dianggap sebagai kaum intelek?
Permasalahan kedua adalah organisasi mahasiswa yang belum bisa merangkul (makna kiasan) mahasiswa-mahasiswa ini. Sudah seringkali saya dan teman-teman saya yang ”apatis” ini mencoba menelaah apa tujuan dan manfaat organisasi mahasiswa ini. Salah seorang teman saya berpendapat bahwa dirinya tidak dan memang tidak ingin mengikuti organisasi mahasiswa karena dia merasa belum didengar aspirasinya. Menurut dia, seharusnya organisasi mahasiswa itu tidak hanya ”menunggu” tapi juga harus ”menjemput”. Dalam hal ini teman-teman saya menganggap organisasi mahasiswa juga tidak peduli dengan kalangan apatis. Jadilah semakin jauh tentu saja, karena yang berorganisasi mahasiswa semakin larut dengan organisasinya dan yang apatis semakin larut dengan keapatisannya. Sungguh sebuah ironi.(dari Mbak Soraya Hariyani, matur nuhun mbak). Muncul juga tanggapan miris di kalangan mahasiswa sendiri bahwa organisasi menghambat prestasi akademik. Banyak yang enggan berorganisasi lantaran melihat rekannya yang berorganisasi mengalami penurunan dalam prestasi akademik, sehingga muncul anggapan bahwa organisasi menghambat mahasiswa dalam menyelesaikan studinya. Padahal, sejumlah organisasi kemahasiswaan telah menetapkan indeks prestasi akademik tertentu atau jumlah SKS yang harus dilulusi sebagai prasyarat menjadi pengurus. Ini yang perlu ditegakkan lagi.
Permasalahan ketiga adalah ada persepsi publik yang terbangun saat ini bahwa pengurus lembaga kemahasiswaan hanya memiliki bakat demonstrasi. Image ini muncul dari sejumlah pemberitaan media massa bahwa umumnya aksi demonstrasi menyusahkan masyarakat misalnya pemblokiran jalan dan sebagainya. Apalagi jika demonstrasi yang digelar berakhir bentrok.
Sudah sepatutnya, pikiran-pikiran miring untuk organisasi mahasiswa dihapuskan. Selayaknya, kini organisasi kemahasiswaan mulai merangkul para kaum apatis kampus dengan menerima aspirasi-aspirasi mereka. Ingat, organisasi bukan hanya "menunggu bola", tapi juga harus "menjemput bola".
Sebagai gambaran, seorang mahasiswa sepatutnya harus mampu memberikan suatu perubahan dari sistem yang telah ada (jika ini dianggap menentang dari norma) serta mampu menjaga norma-norma yang ada dalam tatanan sosial yang ada dalam masyarakat. Mahasiswa juga juga diharapkan mampu untuk menjadi sosok yang tangguh, memiliki kemampuan dan berakhlak mulia yang dapat menjadi pengganti dari para pendahulu-pendahulu mereka. Dengan demikian, maka barulah mahasiswa bisa ditempatkan sebagai massa penggerak dalam peradaban (udah paham? lanjot).
Peran mahasiswa juga gak kalah penting ni kawan-kawan. Dalam literatur ilmu politik, mahasiswa merupakan salah satu aktor yang dapat digolongkan ke dalam pressure group (kelompok penekan). Mahasiswa merupakan aktor penting dalam perubahan-perubahan sosial dan politik. Sejarah perubahan politik besar di negeri ini selalu diwarnai oleh peran mahasiswa yang sangat menonjol (oleh Asep Mulya, makasih bang). Mahasiswa, sebagai kelompok intelektual dan wakil dari kelompok anak muda dari warga, secara naluriah memiliki tingkat kepekaan yang tinggi pada persoalan-persoalan sosial di sekitarnya. Tak heran Bung Karno pernah berujar, ”Sediakan aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia!”
Tapi kini, seiring dengan perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi serta bertambahnya umur ayahku (kok jadi ayah masuk sini?), pergerakan serta penegakan dari peran dan fungsi mahasiswa bisa dikatakan sebagai suatu hal yang "mewah". Kenapa? disini poin permasalahannya saudaraku (mulai pake jas pake dasi). Peran dan fungsi mahasiswa seiring waktu mulai luntur dikarenakan sikap dari para mahasiswa sendiri yang memilih untuk menjadi apatis. Apatis (bahasa yunani "a-phatos") merupakan sikap dari seseorang yang tidak perduli kepada lingkungan dan apapun yang terjadi disekitarnya. Dalam bahasa yang mudah dimengerti, apatis adalah sikap "Nafsi-nafsi". Jika ditelaah lebih jauh lagi, ada beberapa faktor yang menjadikan mahasiswa bersikap apatis. mari kita bahas sekarang (siapin naskah, naik podium).
Yang pertama, hedonisme (gaya hidup berhura-hura yang hanya mementingkan kesenangan dan kenikmatan duniawi) secara perlahan merasuki kaum muda-mudi, tak terkecuali mahasiswa. Tak bisa kita pungkiri, kini mahasiswa tidak bisa lagi kita anggap sebagai kaum intelektual dan agen perubahan. intelektual disini tidak hanya sebatas memiliki nilai akademis yang bagus, tapi juga bagaimana untuk menjadi manusia yang bisa kembali kepada masyarakat untik mengabdi. Banyak mahasiswa kini terjebak pada kehidupan bermewah-mewahan. Contoh paling dekat adalah mahasiswa kini malu jika kurang update dalam hal gadget. Suatu kebanggan kini dalam kalangan mahasiswa jika memiliki smatrphone tipe terbaru, punya tablet PC dan semacamnya. Justru kalangan yang tidak memiliki ini dianggap sebagai kalangan terbelakang, kuno, kampungan dan sebagainya. Dengan gambaran seperti ini, masih layakkah mahasiswa dianggap sebagai kaum intelek?
Permasalahan kedua adalah organisasi mahasiswa yang belum bisa merangkul (makna kiasan) mahasiswa-mahasiswa ini. Sudah seringkali saya dan teman-teman saya yang ”apatis” ini mencoba menelaah apa tujuan dan manfaat organisasi mahasiswa ini. Salah seorang teman saya berpendapat bahwa dirinya tidak dan memang tidak ingin mengikuti organisasi mahasiswa karena dia merasa belum didengar aspirasinya. Menurut dia, seharusnya organisasi mahasiswa itu tidak hanya ”menunggu” tapi juga harus ”menjemput”. Dalam hal ini teman-teman saya menganggap organisasi mahasiswa juga tidak peduli dengan kalangan apatis. Jadilah semakin jauh tentu saja, karena yang berorganisasi mahasiswa semakin larut dengan organisasinya dan yang apatis semakin larut dengan keapatisannya. Sungguh sebuah ironi.(dari Mbak Soraya Hariyani, matur nuhun mbak). Muncul juga tanggapan miris di kalangan mahasiswa sendiri bahwa organisasi menghambat prestasi akademik. Banyak yang enggan berorganisasi lantaran melihat rekannya yang berorganisasi mengalami penurunan dalam prestasi akademik, sehingga muncul anggapan bahwa organisasi menghambat mahasiswa dalam menyelesaikan studinya. Padahal, sejumlah organisasi kemahasiswaan telah menetapkan indeks prestasi akademik tertentu atau jumlah SKS yang harus dilulusi sebagai prasyarat menjadi pengurus. Ini yang perlu ditegakkan lagi.
Permasalahan ketiga adalah ada persepsi publik yang terbangun saat ini bahwa pengurus lembaga kemahasiswaan hanya memiliki bakat demonstrasi. Image ini muncul dari sejumlah pemberitaan media massa bahwa umumnya aksi demonstrasi menyusahkan masyarakat misalnya pemblokiran jalan dan sebagainya. Apalagi jika demonstrasi yang digelar berakhir bentrok.
Sudah sepatutnya, pikiran-pikiran miring untuk organisasi mahasiswa dihapuskan. Selayaknya, kini organisasi kemahasiswaan mulai merangkul para kaum apatis kampus dengan menerima aspirasi-aspirasi mereka. Ingat, organisasi bukan hanya "menunggu bola", tapi juga harus "menjemput bola".
Komentar
Posting Komentar